Tulisan Feature
Pedagang Es Buah Penuh Perjuangan
Pernahkah kita membayangkan hidup sendirian di tengah kota seperti di Jakarta tanpa bekal pendidikan yang memadai, kemampuan yang di miliki seadanya saja, hanya bekal pantang menyerah dan semangat dari keluarga. Ia mampu melangkahkan kakinya ke Jakarta. Nah, kita lihat sekarang sesosok pria dengan keadaan yang kurang memadai ia pantang panyerah melanjutkan tekadnya untuk mencari nafkah di Jakarta dengan berjualan es buah.
Teriknya matahari di siang bolong ini tidak mengalahkan tekad seorang penjual es buah ini untuk berjualan. Semangat yang membara ikut membawa kita ke dalam cerianya, walau hanya melihat dari kejauhan. Dengan rasa rendah hati ia melayani pelangganya dengan ramah. Setiap ada waktu senggang dia bergegas membeli bahan tambahan buah-buah di pasar Ciputat untuk melengkapi es buahnya.
Hari senin yang ramai, penjual es buah senang sekali melihat dagangganya laku terjual habis, dengan gerobak yang berwarna hijau putih serta tulisan Roni gerobak itu di dorongnya, hanya beralaskan sandal jepit untuk menutupi kakinya. Berjualan es ia menghidupi dirinya dengan berjuang dalam kehidupan kota Jakarta yang penuh dengan keramaian. Tanpa rasa malu ia berjuang untuk mengapai kehidupan yang lebih baik agar bisa menghidupi keluarganya di kampung dan dapat mempercepat pelaksanakan pernikahan dengan calon istrinya, dengan umur 26 tahun itu sudah cukup untuk berkeluarga.
Penjual es buah ini kita kenal saja Bapak Roni (26) lahir di Tasikmalaya 15 Mei 1984. Ke Jakarta sejak tahun 2004, seiring berjalan tibanya di Jakarta Roni memutuskan untuk berjualan es buah saja, dan kini ia tinggal di Kemanggisan RT 02/RW 03. Kemudian barulah ia memulai berjualan es buah di depan sekolahan.
Gerobak yang di dorongnya melangkahkan ia untuk berangkat berjualan. Tepat pukul setengah delapan pagi, ia siap mendorong gerobaknya ke tempat mangkal seperti biasa. Jika pagi hari sampai siang hari ia mangkal di SD Kp Utan 1, SD Kp.Utan 2. Sekolah dasar ini berdekatan letaknya di Kp Utan, Ciputat. Selasai mangkal di SD barulah ia pindah di depan sekolah SMPN 4 Tangerang Selatan sampai sore hari bersama pedagang yang lain diantaranya siomay, bakso, ketoprak di bawah pohon rindang mereka menghabiskan waktunya. Sedangkan pulang tidak menentu sehabisnya saja, paling lama selesai azan magrib. Rutinitas mangkal hampir setiap hari.
Penghasilan perbulan jika dihitung-hitung berkisar 500 ribu, jika perhari antara Rp.10.000-Rp.50.000. Menu yang disajikan Es Campur, Es Kelapa, Es Buah. Harga yang ditawarkan relative murah mulai dari 2ribu-3ribu. Kadang pernah seribu juga diberikan tapi tanpa susu. Relative yang membeli anak sekolah dan masyarakat umum. Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan es berupa gula dan buah-buahan.
Sukanya menjadi pedagang es buah “Jika hujan, gak dapat duit sedih rasanya pengen pulang”, Dukanya “jika dapat duit banyak”. Tetapi tetap saja “sudah enam tahun tinggal di sini masih saja begini-begini juga”, ujarnya.




0 komentar:
Posting Komentar