Tayangan Televisi Dapat Mengubah Gaya Hidup dan Moralitas
(Berbagai Suku yang Tinggal di Tangerang Selatan, Ciputat)
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sejak ada siaran TVRI hingga tahun 1989, televisi pemerintah ini merupakan satu-satunya stasiun siar yang mendikte semua acara dan programnya untuk pemirsa. Suka atau tidak, pemirsa harus menerima. Stasiun televisi swasta, waktu itu memang belum ada. Memasuki tahun 90 hingga sekarang ini, pemirsa dapat memilih acara yang disukai, karena ada keberagaman jenis siaran dari lahirnya televisi swasta lokal maupun nasional seperti RCTI, TPI, SCTV, ANTV, METRO TV, TVOne, GLOBAL TV, TRANS TV, TRANS 7, INDOSIAR, SPACE TOON TV, JAK TV, O CHANNEL, ELSHINTA.
Dalam masa ini pemirsa bisa mengkaji ulang pilihan dan menentukan apa yang mau ditonton. Kini masing-masing stasiun televisi swasta bisa menentukan apa yang dianggap wajib siar, wajib tonton, ataupun wajib mendatangkan iklan. Masing-masing mempunyai alasan tersendiri dan yang terjadi adalah kompromi atas berbagai benturan kelompok kepentingan.
Dari tayangan televisi itu dapat merubah tingkah laku maupun kultur seperti dalam kasus yang sering kita temui di lingkungan sekeliling kita. Ada seorang anak meminta uang kepada ibunya, kemudian ibunya tidak memberikannya sehingga anak tersebut berfikir dan sering cenderung berprilaku menyimpang seperti halnya mereka mencuri uang orang lain yang bukan semestinya. Hanya ingin memenuhi keinginannya itu misalnya si anak ingin membeli Hp blackberry yang sekarang trend pada zaman sekarang mereka ingin mengikuti arus tersebut yang dia lihat dari teman-temannya atau ada variable lain yang mempengaruhui dirinya terutama di media massa berupa tayangan televisi yang dapat diterima langsung oleh yang melihatnya.
Seakan-akan yang ditampilkan media itu realitas yang nyata. Begitu juga dengan yang berada di pedesaan mereka lebih cenderung ingin datang ke perkotaan karena yang mereka lihat di tayangan televisi itu misalnya sebagai contoh tayangan sinetron anak-anak muda yang kekinian sehingga yang di pedesaan ingin ikut terbawa arus modernisasi yang akan berdampak kepada kepadatan penduduk karena kebanyakan mereka datang kurang memiliki kemampuan yang memadai sehingga membuat mereka tidur dimana-mana bias di pinggir jalan ataupun di bawah kolong jembatan yang itu akan hanya membawa pemicu kejahatan semakin bertambah juga.
Bagi masyarakat perkotaan semua tayangan acara televisi, baik komedi, film, talkshow, musik ataupun kuis telah menjadi trendsetter gaya hidup. Penonton begitu tergila-gila dengan gaya bintang iklan, pemandu acara talk show, artis sinetron, dan film. Kegilaan pemirsa itu terwujud dalam bentuk model rambut, pakaian, parfum, samapai gaya mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Gaya hidup pemirsa televisi, tidak bisa lepas dari pengaruh acara televisi yang ditayangkan. Tayangan berita kriminal, seks bisa berdampak kejahatan dan perkosaan. Di sisi lain peniruan dalam model rambut sebagian penonton televisi mecerminkan terjadinya hal peniruan itu. Seperti Elvira Anna (28), pekerja media, yang menikmati perlakuan ini. "Aku merasa dihargai dan dikenali kebutuhanku, dan bukan jadi bahan percobaan," aku Anna yang mengaku puas usai memotong rambut panjangnya.
Tayangan televisi juga merupakan media peniruan dan penanaman nilai negatif, padahal anak-anak belum mampu membedakan mana yang baik dan buruk serta mana yang pantas dan tidak pantas. Beberapa tayangan anak-anak di televisi memberi pembenaran atas perilaku negatif seperti mencontek, mempertontonkan aib orang lain dan menipu. Belum lagi film-film kartun yang penuh dengan kemunculan bahasa kekerasan, seperti kata-kata goblok, alah, dan sebagainya. Konsumtivisme anak-anak sekarang juga banyak dikaitkan dengan tayangan dan iklan di televisi.
Usia anak adalah usia dimana si anak sedang mengembangkan segala kemampuannya seperti kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain dan kemampuan mengemukakan pendapat. Ketika menonton televisi, anak cenderung untuk bersikap individualis sehingga ketrampilan-keterampilan anak tersebut menjadi kurang berkembang. Berbeda sekali ketika anak bermain bersama teman-temannya. Saat bermain, mereka akan saling bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Jika proses ini terjadi terus menerus maka yang terjadi adalah semakin turunnya kemampuan anak dan remaja dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.
B. Permasalahan Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas, maka inti dari permaslahan dalam penelitian ini yaitu seberapa besar peran media telah mempengaruhi masyarakat yang telah membuat masyarakat berubah sehingga gaya hidup, kultur, moralitas menjadi berubah drastis, dimana kedudukan masyarakat tergantung pada tingkat media itu sendiri yang menayangkan televisi.
Untuk mempelajari fungsi media masyarakat lebih cenderung mengikuti acara yang telah di tampilkan di televisi tersebut. Kuarangnya pemerhatian dari pemerintah untuk penayangan televisi agar lebih banyak menampilkan edukasi. Televisi itu sebagai alat utama bagi masyarakat. Maka dari itu khusus untuk anak-anak para orang tua harus lebih menjaga anaknya dalam menonton televisi serta memberikan pengawasan tentang jadwal menonton televisi agar mengurangi kadar yang di tonton itu tayangan kekerasan karena anak mudah sekali meniru apa yang di lihatnya.
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar peran media dalam mempengaruhi pemirsa televisi. Yang ingin saya ketahui kenapa kebanyakan orang cepat menerima tayangan televisi itu seakan-akan televisi itu menampilkan sesuatu yang benar-benar riil dan apa adanya. Alasannya agar masyarakat tidak begitu terpaku dengan keberadaan tayangan televise yang tidak membawa dampak positif bagi penerimanya. Agar diperbaharui juga tayangannya.
D. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kualitatif yang diambil dalam penelitian. Masalah yang terkumpul dari berbagai lapisan masyarakat, menguraikan tentang realita yang ditayangkan televisi dan di masyarakat itu sendiri. Penilitian ini menyangkut aspek tentang berubahnya masyarakat akibatnya tayangan televisi seperti tatanan gaya berpakaian, gaya berteman, gaya sikap, gaya sosialisasi, dan berbagai lainnya yang berhubungan dengan moralitas. Dengan penelitian ini diharapkan menerima informasi, bermanfaat dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
E. Waktu dan Tempat
Karena pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, maka dengan sendirinya waktu yang digunakan untuk penelitian ini relatif lebih lama. Peneliti terjun langsung ke lapangan, serta peneliti terlibat langsung di dalam penelitiannya. Sebagaimana kita ketahui penelitian kualitatif menggunakan waktu yang cukup lama kurang lebih sembilan bulan. Tempat yang di teliti berbagai suku masyarakat yang tinggal di Tangerang Selata, Ciputat agar mendapatkan hasil yang konkrit.
F. Metode Pengumpulan Data
a. Penentua lokasi penelitian
b. Penentuan dan pemilihan informan
c. Pengumpulan data
d. Pengolahan dan analisa data
G. Alasan Data
Saya memilih judul TAYANGAN TELEVISI DAPAT MENGUBAH GAYA HIDUP DAN MORALITAS, mengkaji aspek-aspek yang ada di belahan dunia melalui televisi kita dapat menerima informasi di sekitar lingkungan kita, di daerah lain, dan Negara lain. Banyak pengetahuan yang bisa kita ambil dari informasi yang di tayangkan televisi. Tidak dipungkiri lagi selain itu banyak juga aspek negatif yang akan berdampak buruk khususnya terhadap anak.
H. Landasan Teori
Sebelum kita membahas masalah perubahan masyarakat akibat tayangan televisi di Tangerang Selatan, Ciputat. Maka tidak ada salahnya dikemukakan tentang teori media televisi. Hal ini erat kaitannya dengan sistem yang di buat oleh media televisi sebagai bahan acuan agar bisa mengambarkan sejauhmana perubahan yang terjadi dalam pemirsa setia televisi.
Teori-teori yang digunakan dalam media televisi dapat mencakup banyak hal dari berbagai sisi. Media itu sebagai alat komunikasi antara individu yang satu dengan individu lainnya, atau bisa juga kelompok. Alat media sebagai contoh dalam kehidupan masyarakat yang sudah kita kenal dekat sekali, yang biasa kita lihat dan memilikinya sekaligus menggunakannya, seperti televisi, film, radio, majalah, dan surat kabar. Hal itu bukan hal asing lagi bagi kita. Apalagi televisi setiap saat setiap waktu kita bisa menonton televisi tanpa ada yang membatasi ruang kita bergerak, kita bebas memilih program-program apa saja yang ingin kita tonton. Dalam kasus menonton televisi yang berlebihan tanpa melupakan waktu kita belajar, lupa makan, lupa kuliah orang tersebut kecanduan menonton.
Media yang kita kenal sekarang ini. Memiliki unsur-unsur teori yang terdapat didalamnya sehingga media bisa berjalan sampai dengan saat ini. Teori yang digunakannya bisa berubah-berubah mengikuti kebutuhan masyarakat dan mengikuti kemajuan teknologi informasi. Jika tidak ada batasan untuk kita menonton televisi pasti kita tidak terkontrol sehingga bisa mengakibatkan kekerasan yang diakibatkan oleh televisi ini termasuk kedalam teori kultivasi yang dibawakan oleh George Gerbner.
Gerbner menerangkan bahwa televisi dapat membawa kita keluar imajinasi yang membuat suatu pandangan dunia. Televisi dianggap sebagai media yang istimewa, unik karena memiliki karekteristik tersendiri. Televisi sebagai sarana belajar tentang masyarakat dan kultur. Jika seseorang sudah terkultivasi ia mengatakan bahwa seorang maniak berat televisi menganggap kemungkinan seseorang menjadi korban kejahatan adalah 10 banding 1.
Jika seseorang terlalu sering menonton dia akan merasa dunia yang dia tempati bukan tempat yang nyaman baginya. Misalkan, kita menonton televisi dimana ada pemberitaan yang menayangkan bahwa di stasiun manggarai rawan copet jadi harap-harap berhati-hati jika turun di stasiun tersebut. Dan kaitkan dengan yang di jalan kemayoran disitu terdapat banyak para pencopet. Dengan adanya pemberitaan tersebut penonton beranggapan bahwa di setap jalan-jalan yang di Jakarta sudah tidak aman lagi, terdapat pencopet sehingga mengakibatkan kecemasan bagi penonton yang menonton tayangan berita itu.




0 komentar:
Posting Komentar